Lemon Tea Hangat untuk Hati yang Sedih

Pohon-pohon di sepanjang jalan melambaikan tangannya kepadaku. Angin malam bertiup pelan, menemaniku menuju kosan dari kampus. Cerahnya malam terlihat gelap olehku. Ah, aku sedang banyak pikiran belakangan ini. Masalah-masalah yang sedang kuhadapi saat ini membuat makanan lezat terasa hambar, tidur menjadi tidak nyenyak, hati menjadi galau, tugas kuliah tidak kunjung terselesaikan.

Semester ini merupakan semester yang cukup sulit untukku. Dari hal akademis, tugas begitu menumpuk dan materi kuliah terasa sulit dimengerti. Meskipun sudah berusaha mengerjakan, tugas-tugas kuliah tersebut jarang ada yang selesai dengan baik, jauh dari memuaskan. Seringkali tugas dikirim di detik-detik terakhir pengumpulan tugas. Dari luar akademis, aku juga sedang mengalami masalah dengan kos-kosan yang ditempati. Sampah-sampah penghuni kosan berserakan di luar begitu saja. Jarang dibersihkan oleh penjaga kosan. Padahal aku sudah beberapa kali memberitahu bapak penjaga kosan. Bau ‘sedap’ yang muncul dari berserakannya sampah tersebut membuat kosan tidak lagi nyaman. Kalau sudah di kampus, tidak ada gairah untuk pulang ke kosan.

“Malas ah ke kosan. Lingkungannya lagi ga enak.” gerutuku dalam hati.

Bagaimanapun, masalah-masalah seperti ini kerap mengganggu. Konsentrasi belajar di kosan pun buyar. Masih ada masalah-masalah lainnya yang membuat kuliah yang kujalani makin tidak tentu arah.

Liburan semester akhirnya tiba. Suasana indahnya liburan berubah seketika saat kenyataan pahit datang: nilai kuliah semester yang baru saja dilalui hancur berantakan. IP-ku jatuh dalam. Tertera di website akademis kampus dengan akunku, angka 2.97. Bagiku, ini tamparan yang sangat keras. Setelah pernah mencicipi IP cum laude, akhirnya aku dipaksa mencicipi IP dua koma. Bingung, sedih, marah, dan kesal bercampur aduk. Duh, bagaimana aku mempertanggungjawabkan hasil nilai seperti ini kepada orangtua? Masa sih gara-gara masalah saat kuliah?!

“Aaargh, kenapa nilainya nyaris banget sih. Tambahan 0.03 lagi kan IP dah jadi 3.00. Nanggung banget sih. 2.97 dan 3.00 kan beda rasa.” keluhku.

Dengan ini, aku resmi bergabung dengan mahasiswa PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma). Ya, bolehlah sedikit berbangga karena aku adalah mahasiswa PMDK ‘paling senior’. Aku tersenyum miris.

Sore hari di area terbuka kantin kampus, aku duduk termenung ditemani dengan lemon tea hangat memikirkan apa yang salah dengan diri ini di akademis semester yang baru saja berlalu. Termenung bersama lemon tea hangat, minuman kesukaanku, adalah pilihan yang pas. Hangat dan menenangkan hati.

“Hi Putra, ngapain ngelamun sore-sore gini?” tanya suara yang membuyarkan lamunanku.

Ternyata suara itu suara teman satu angkatan, namanya Rian. Wah, kebetulan nih, Rian adalah teman yang asyik diajak curhat.

“Hai rian. Silakan duduk. Ya, aku lagi terpikir masalah nilai yang baru aja keluar. Nilaiku lagi ga banget nih.” ucapku dengan ekspresi sedih.

Tiba-tiba raut muka Rian yang tadinya biasa saja berubah menjadi sedih, lebih sedih daripada yang baru saja aku ungkapkan.

“Putra, aku ga lulus mata kuliah pak Yadi.” ungkap Rian dengan suara agak berat sambil menunduk.

Aku terhenyak mendengar ucapannya. Kaget, tidak percaya Rian bisa tidak lulus di mata kuliah tersebut. Aku sendiri pun sebenarnya merasa beruntung bisa lulus.

“Serius, rian?” tanyaku masih tidak percaya. Rian mengangguk tanda serius. Sepertinya dia tidak lagi sedang bercanda.

“sabar ya. lu harus tetap semangat. ke depannya harus lebih baik.” ucapku menyemangatinya. Agak aneh sih, padahal aku sendiri juga lagi butuh untuk disemangati. Apa boleh buat, niat curhat karena hancurnya nilai harus disimpan dulu.

“rasanya udah berusaha keras semester kemarin. tapi kok kenyataan berkata lain.” ucap Rian kembali.

“nilai kurang baik atau tidak lulus berarti tanda kita harus berusaha lebih baik lagi. anggap aja ini tantangan lebih buat kamu.” ujarku sambil tersenyum kecil.

“memang ketidaklulusan ini buatku sedih. tapi sepertinya hal ini tidak perlu untuk disedihkan lama-lama. aku punya rumah yang nyaman, kuliah di universitas favorit, uang yang lumayan buat jalan-jalan, air yang menyegarkan untuk diminum, waktu libur yang panjang, tidur yang nyenyak, dan kesehatan untuk melakukan apapun yang disukai.” balas Rian.

“Waaaw, aku suka banget kata-kata kamu barusan, ian.” ucapku dengan semangat.

Pembicaraan saling menyemangati terus berlanjut. Sore itu, sambil menikmati lemon tea hangat, aku dan Rian ngobrol lebih santai. Ada begitu banyak hal yang perlu disyukuri di kala seseorang sedang mendapat hal yang tidak menyenangkan. Tidak boleh ada kata putus asa. Tidak boleh ada kata menyerah. Perjalanan masih panjang, masih ada harapan di depan. Hal pahit yang baru saja dialami hanyalah satu warna kehidupan yang membuat hidup jadi berwarna, lebih bermakna. Jangan bersedih diri ini!

“Emang, IP kamu berapa, ian?” iseng-iseng, aku tanya saja IP Rian.

“Sedikit di atas 3.00 kok. Masih lebih baik darimu lah. Aku kan masih ada nilai A-nya.” ucapnya sambil tertawa. Rasanya seperti menertawakanku.

“Siaaal, apaaaa maksud rian?! kok dia bisa tahu?” ucapku dalam hati. Apakah aku melewatkan sesuatu hal. Aku mengingat-ingat perjalanan waktu hari ini. Dan ketika di suatu titik waktu, aku teringat hal penting. Oh iya, aku lupa logout dari website akademis kampus!!!

Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati

——-

Kutek, Depok, Semester 4, 2010

picture credit to: wahw33d-blogspot-com

5 thoughts on “Lemon Tea Hangat untuk Hati yang Sedih

  1. lagi cari lis blog teman teman ultra 2008 ,eh pas mampir disini
    malah seklias liat IP waaaaa………… kabur dah gw he…
    numpang kopas linknya bro😀

  2. gw baca ini udah lama dr link di fb tp wkt itu entah knp ga bs komen >,<.
    is it fiction or non fiction?
    tapi sepertinya penulis sangat menghayati tokoh utama😛
    well, hidup memang seperti roda. memang benar ya, kalo lagi di atas jangan berlebihan senengnya, kalo lg di bawah jg jgn berlebihan sedihnya. krn Allah tidak suka sesuatu yg berlebih2an *loh kok jadi ke sini xD

    anyway, itu epic banget akhirnya kocak hahahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s